*Berkarakter, Inspiratif, Bijaksana, Inovatif, Nekat ^^

Air Es dalam Drum

Suatu siang, matahari begitu terik dan panas memenuhi seluruh ruangan di sebuah rumah kontrakan yang terbuat dari seng. Keringat mengucur deras sampai-sampai seperti mengalir seperti ada sumber mata airnya. Dua anak kecil yang sedang asik bermain menjadi gelisah dan mandi keringat. Permainan tak lagi menyenangkan, yang ada mereka berkali-kali harus menyeka keringat supaya tidak jatuh ke mata. Sungguh suatu hari yang sangat menyengat. Dua anak kecil tadi menuju ruangan yang sepertinya sebuah dapur sambil mencari-cari dimana letak air minum, untuk mengurangi rasa panas yang menyebar.

Ahh seandainya ada air es yang mendinginkan kepala dan badan. Brrrr… Dua anak kecil itu berlari menuju dapur, yah mencari seteguk dua teguk air sambil menghela nafas panjang seperti lega dari rasa haus seharian. Dari jauh, laki-laki paruh baya sedang mengamati gerak-gerik mereka, terulas senyum merekah memandangi kedua tingkah laku kedua anaknya. Dia pergi menuju ke dapur, sambil tersenyum dia memanggil keduanya… Bapak punya cara ampuh membuat air kita dingin.. Waaahhh? Kedua mata anaknya berbinar-binar, sambil mendengarkan seksama ucapan sang ayah dan menghayalkan cara ajaib yang dipakai.
Begini caranya : pertama air yang sudah masak dimasukkan ke dalam botol air mineral yang sudah kosong, lalu ditutup kemudian dimasukkan ke dalam drum tempat air d kamar mandi kami… Kita minumnya besok pagi.. Kedua anak kecil itu bersemangat mengisi air yang sudah dimasak ke dalam botol, lalu dicemplungkan ke dalam drum, waaaa tinggal tunggu besok…

Keesokan harinya, sepulang sekolah kedua anak kecil itu berlarian di terik matahari menuju rumah kontrakan seng mereka. Sudah barang tentu ingin cepat2 minum air dingin mereka… Brrrrrr masi dinginnnn. Yeaaaayyy… Mereka senang… Ha ha.. Air es dalam drum.

Itu cerita kecilku, apa ceritamu?

Terima Kasih Guru

Kalau kita mengingat guru, maka kita akan sering teringat dengan masa-masa kita SMA, SMP, SD atau TK, atau dosen, Doctor, Prof yang mengajar kita di sekolah. Betapa mereka sangat menghawatirkan kita, mempersiapkan pelajaran untuk kita dengan mati-matian *Lebay tapi memang begitu pula, mereka berlebihan mempersiapkan materi. Saat di kelas pun mungkin kita datang dengan berbagai pikiran di kepala kita… saat kita SD, SMP, SMA, SMP, he he bisa dibayangkan sendiri-sendiri masa itu… tentunya teman-teman memiliki keunikan tersendiri melewati masa itu.

Kembali ke guru kita, dari sekian banyak guru yang telah mengajar.. pastinya teman-teman dan juga saya memiliki berbagai kesan yang menarik, ntah itu guru favorite, wali kelas, guru yang paling keren, guru yang paling deket sama murid2 bahkan guru yang *killer* semua itu menjadi kenangan yang tak terlupakan. Bagi saya semua guru saya begitu berharga, guru-guru SD, petrah 1 tanahmerah, Kemayoran 1 Bangkalan, semuanya membuat saya belajar tentang bagaimana berusaha, tidak kalah dengan keadaan dan menjunjung tinggi kejujuran…

Di sekolah petrah 1 saya *yang dahulu, kami menulis semua contoh soal ujian, dan yang ada di buku-buku, disalin setiap hari supaya bisa dipelajari di rumah, setiap saya menulis di papan untuk disalin, tidak kerasa kalau sudah sampai no 100.. he he.. tapi itu sangat berkesan karena teman saya ada yang rela menulis 200, 100 di bukunya dan 100 di buku saya… Guru itu senantiasa sabar mengajar kami yang seringnya sedikit2 bermain ^^v… bu Fat… Di kemayoran 1, yang paling berkesan adalah ketika kami kelas 6, wali kelas kami pak Mus, tidak lagi “mengajar kami” secara konvensional, tapi hanya menyuruh kami untuk membawa buku yang dipakai untuk ulangan setiap harinya, hampir semua mata pelajaran, sampai2 ga berasa ulangan lagi karena setiap hari dan kapan saja… akhirnya mau tidak mau kami belajar di rumah bersama teman dan juga ke tempat pak Mus.. lama-lama nilai kami menanjak juga… Saat yang paling menegangkan yaitu ketika UNAS, saat itu sering sekali ada isu kalau guru akan memberi jawaban soal UNAS, bapak kepala sekolah kami pak Salim datang menemui kami yang sedang dug dug ser menunggu ujian, dan berkata bahwa tidak ada yang namanya diberi contekan, semua guru akan saya “sabotage” di ruang guru, dan kalian harus memegang tinggi kejujuran (redaksi saya , intinya begitu).. Saat itu memang sekolah kami tidak begitu sangat menonjol hasil rata-rata UNASnya, kami semua tersebar di berbagai sekolah SMP dari favorite sampai yang biasa-biasa saja, tapi yang paling menonjol adalah hampir semua teman saya saat di SMP menjadi siswa yang paling menonjol di kelasnya.. itu buah dari jujur terhadap diri sendiri..

kalau saya ceritakan semua guru saya, mungkin dalam beberapa minggu ke depan tulisan ini tidak akan pernah habisnya untuk ditulis, tentang kebanggaan, rasa kagum, hormat saya terhadap seluruh guru saya dari kecil dan seluruh guru yang ada di dunia ini, I Love You all, fullll.. *berkaca-kaca*

Begitu pula guru informal saya, yang lainnya…

Suatu saat, di suatu acara rapat di sebuah organisasi, seorang adik mahasiswi menyampaikan nasihatnya kepada kami semua, (saling nasihat-menasihati itu mencegah kerugian) : siapakah guru kita? apakah hanya yang ada di sekolah-sekolah? ataukah guru ngaji kita? iya itu yang utama, tapi juga ada guru yang sering tidak kita sadari (invisible teacher)..

Ketika bertemu orang yang memarahi kita maka kita akan belajar bagaimana rasanya dimarahi, sehingga tidak akan gampang untuk marah, atau bertemu teman yang sangat setia dan menyayangi kita, kita akan belajar untuk sepertinya, karena itu akan sangat menyenangkan. Melihat pemandangan yang hijau, kita akan belajar untuk berkebun, saat kita ditabrak maka kita akan belajar bahwa mengendarai di jalan itu bukan hanya antara saya dan jalan tapi juga orang lain.. melihat semut yang bergotong royong kita akan malu untuk individualis… dan banyak lagi…

karena itu ayat Al Qur’an pertama yang turun adalah tentang membaca, dan kenapa diturunkan pada Rasulullah yang saat itu buta huruf? hikmah yang dapat diambil adalah bagaimana membaca itu merupakan hal yang pertama dan utama bagi manusia, dan membaca juga bukan hanya milik orang-orang yang mengenal huruf karena membaca tidak hanya sekadar membaca bacaan tapi juga alam semesta (membaca fenomena, kejadian, tumbuhan, hewan, manusia dsb) karena semua itu kunci mendapatkan ilmu menuju kebahagiaan dunia dan akhirat

 

Thank you Allah

Thanks for all of my teachers in the world

Selamat hari Pendidikan ^^v

Saya yang akan terus menjadi murid selamanya…

picture :

1 2 3

sebuah FORMALITAS

Ini kata-kata yang sering saya dengar beberapa bulan terakhir ini, setidaknya apakah ini sebuah teguran bagi saya untuk kembali memaknai setiap yang saya kerjakan, saya pikirkan dan yang saya kejar.mungkin teman-teman juga sering mendengarnya.

Suatu hari saya tengah menjalani koskap (kepanitraan klinik=Koas aka pendidikan profesi dokter umum) di labPublic health ,banyak sekali pelajaran yang bisa diambil, barangkali karena lab ini merupakan lab bukan klinis dan salah satu favorit saya.

Saya pun dan kawan-kawan jauh2 hari membentuk kelompok puskesmas, berharap banyak saya bisa melakukan banyak hal dan mendapatkan banyak hal pula. Tiba suatu ketika penentuan kelompok, kami bergegas mengumpulkan daftar kelompok, detelah nama kelompok tertera di papan, ternyata ada teman kami yang belum dapat kelompok (entah dengan berbagai alasan) sehingga memaksa setiap kelompok untuk merelakan, salah satu anggotanya untuk pindah, karena berbagai hal akhirnya saya memutuskan untuk keluar dari kelompok (walaupun sedih sekali, bahkan ada teman yang sampai akan meneteskan air mata, wajahnya memerah dan berkaca-kaca, ada anggota lain yang akhirnya cemberut bersedih atas keputusan saya tersebut) namun dalam hati saya ingin teman-teman tetap semangat. saya pun demikian, walaupun sedikit sekali kemungkinan  apa yang says ingin pelajari dari PH ini akan sedikit tersandung, karena dari awal tidak memiliki pemikiran yang sama dengan kelompok baru saya.

Tibalah kami di puskesmas, kami semua dengan “riang gembira” mendapat puskesmas yang jauh, ah tidak apalah yang penting bisa belajar. suatu hari, Saya dan teman saya sedang mencari data untuk menentukan jenis promosi kesehatan yang akan kami lakukan. dan salah satu pegawainya nyeletuk yang menurut saya tidak lucu sma sekali, “gampang aja mbak, nyari yang deket2, yang gampang, kan formalitas aja kan” begitu katanya, langsung saya potong “maksudnya gmana? jauh-jauh saya kesini hanya dibilang untuk mencari formalitas??? jangan bilang itu pada sayam, karena saya ingin melakukannya sepenuh hati dan belajar sungguh2″, dia hanya tertawa kecil dan berkata “iya kah?”. Huh, dasar, bikin kesel saja. Formalitas katanya??, pakai topeng dong saya? topeng karena saya mahasiswa? saya terlalu tua untuk pakai topeng, saya tidak mau formalitas, dan menyia-nyiakan waktu saya untuk sebuah kepura-puraan melakukan sesuatu. Saya ingin melakukannya karena saya hidup, saya ingin hidup saya berarti, bukan sebuah kepura-puran atau formalitas belaka…

Usut punya usut memang penggunaan formal ini sudah dipakai sejak lama, lembaga pendidikan formal, sekolah formal dll.  mari kita telusuri tentang pendidikan kita utamanya di sekolah. mungkin kajian saya tidak sepenuhnya benar secara mengkritisi pendidikan, karena saya bukan sarjana pendidikan yang sangat paham hakekat pendidikan, namun saya sebagai calon ibu dan seorang anak yang juga menempuh pendidikan, maka tidak ada alasan bagi saya untuk tidak mengkajinya, sepanjang ilmu yang sudah saya terima.

Kita mulai dari kata sekolah, Kata sekolah berasal dari Bahasa Latin: skhole, scola, scolae atau skhola yang memiliki arti: waktu luang atau waktu senggang, dimana ketika itu sekolah adalah kegiatan di waktu luang bagi anak-anak di tengah-tengah kegiatan utama mereka, yaitu bermain dan menghabiskan waktu untuk menikmati masa anak-anak dan remaja. lebih lengkapnya tentang sejarah ini, bisa dibaca disini.

sebenarnya, yang saya pikirkan adalah apakah benar-benar pemberian nilai dan peringkat di sekolah itu adalah satu-satunya cara untuk membuat seorang anak bersemangat belajar di sekolah, atau sebaliknya malah minder dan tertanam selalu di kepalanya bahwa dia bukan anak pintar? bahkan dia tidak bisa mengeluarkan dirinya dari frame bahwa dia tidak punya kelebihan apapun karena statemen dari guru, teman, atau orang tuanya karena hanya beberapa pelajaran yang tidak dikuasai di sekolah. menjadi melupakan kebahagiaannya sebagai anak-anak, menjadi seorang ambisius yang mencari sebuah formalitas angka. Memang saya dari kecil tidak begitu mempermasalahkan berapa nilai saya, berapa peringkat saya, karena yang dipikirkan saya waktu itu sekolah itu menyenangkan karena bisa bertemu teman-teman, ada keigiatan kerjainannya, itu saja, sehingga sedih sekali kalau tidak sekolah. Saya baru tau yang namanya belajar itu ya di kampus, itupun justru membuat saya tidak nyaman, bahkan pelajaran sepertinya tertolak oleh otak saya untuk dijadikan memori, yah itu baru saya ingat itu adalah waktu “belajar” saya, jika dicocokkan dengan pengertian  belajar jaman saat ini.

ketika dulu SD_SMP_SMA mengerjakan matematika, fisika, kimia, kesenian, itu senang-senang, saya bisa mencari rumus-rumus baru ala saya yang cepat dan mudah, jadi saya bisa mengerjakan pekerjaan rumah dengan cepat dan selanjutnya bisa bersepeda, bahkan rumusnya ditemukan saat saya bersepeda. tidak ada alasan saya untuk menemukan rumus-rumus itu kecuali sebuah kesenangan. Suatu saat saya mengerjakan PR matematika, saya mengerjakannya, mencari beberapa cara yang menurut saya efisien, gampang dan ndak jelimet, keesokan harinya yang terjadi PR saya dicoret, diberi nilai nol, saya sedih bukan karena nilai nolnya, tapi karena gurunya tidak menerima cara yang saya tuliskan di buku, harus sesuai caranya ketika menjelaskan pelajaran matematika hari sebelumnya. Saya sangat sedih dan protes ke ayah saya yang kebetulan guru juga, beliau hanya bisa tersenyum. Usut punya usut, cara itu ternyata ada di buku cara cepat mengerjakan matematika. Saya tidak habis pikir apa yang sebenarnya sedang terjadi, apakah yang menjadi outcome sebuah pendidikan formal? anak dengan ingatan aksioma, rumus2 di sekolah? apakah akan senantiasa bertahan dengan yang lama? atau seorang anak dengan khayalannya mengembangkan pengetahuan yang diperolehnya saat di sekolah. bukankan begitu? kalau tidak, maka akan yang ada kita akan selalu membebek poengetahuan, padahal esensi belajar bukan seperti itu bukan? ini menurut saya, menurut anda?

Suatu ketika, saya mendapat telepon dari orang tua saya yang kelabakan dengan sikap adek saya yang malas belajar, malas sekolah dan lainnya. Saya pun segera menelepon, ketika saya bertanya kenapa malas? dia bilang pelajarannya gitu-gitu saja, saya bosan, nah loo. ini juga  bukan sebuah kesalahan darinya. COba kita bandingkan anak TK, SD, SMP, SMA ketika berangkat sekolah, kira2 wajahnya yang penuh semangat yang mana? lalu alasannya kira2 apa? yah sebuah kegembiraan atau kesenangan dalam belajar. Yang semakin hilang dari anak-anak sekolah, menjadi pemurung, sedih dan tegang, frustasi dengan nilai-nilai sekolahnya, belum lagi panggilan dari BP dan guru yang menambah ruwet pikirannya, bukan menyelesaikan masalah.

Saya tidak sepenuhnya menyalahkan sekolah, karena tugas mendidik bukanlah beban sekolah seluruhnya, tapi beban semua orang di dunia ini, yang masih ingin melihat perkembangan dan peradaban yang baik. Karena keluarga adalah sumber pendidikan yang sesungguhnya. Mari kita liat sebenarnya waktu belajar di sekolah Indonesia berapa? ada artikel yang bisa dibaca disini . Mudah2an yang saya tulis ini bukan untuk menyalahkan siapapun atas kekurangan kita, namun saya ingin menyadarkan diri saya dan orang sekitar tentang masalah yang kita hadapi saat ini. Karena Sumber Daya yang paling mahal adalah pengetahuan manusia… itu yang membuat kita maju, bukan karena minyak bumi, lautan dan lainnya, itu hanya bonus.

So jangan belajar hanya karena formalitas ya, lembaga pendidikan boleh formal, sekolah boleh formal, acara boleh formal, tapi jangan sampai semangat atau pemikiran kita tentang sesuatu, pekerjaan, amalan itu sebuah formalitas, karena tiba2 ketika kita sudah tua, ternyata kita belum merasakan nikmatnya belajar, nikmatnya bekerja, nikmatnya melakukan sesuatu karena kita sibuk dengan formalitasnya, lupa akan esensi dan kesenangan di dalamnya.. Semangat :::^^v:::

Malang, 15 April 2012 19.00

I am a student, Forever…

Leaflet Anti Rokok

Ini leaflet yang saya buat u penyuluhan…



Ini yang sisi satunya


Jika ada yang berminat he he, hubungi saya :D

Prolog : Suatu hari saat saya sedang jaga psikiatri, alhamdulillah, jaga saat itu aman dan damai, tidak ada kegaduhan maupun kegelisahan para pasien. :D   yeayyy!!!, walaupun demikian seperti begitu menyenangkan, namun bagi kami yang sudah terbiasa dengan tempo kerja yang cepat dan banyak, mengalami sedikit kebosanan, (*he he, karena kalau ada kerjaan pasti milih tenang). Teman saya saat itu, tidur-bangun-tidur lagi-bangun, ntah berapa kali. Saya berusaha menyelesaikan tugas penyuluhan, saat itu saya merampungkan leaflet yang ingin saya bagikan saat penyuluhan (sedikit kecewa, karena pamflet yang saya bikin tidak boleh dibagikan… hiks, padahal bikinnya ampe 2 hari). Di sela-sela saat kami dalam keadaan terjaga, saya dan teman jaga saya, zafirah berdiskusi tentang film yang kami suka, lebih tepatnya, karena saat itu saya juga sedang membaca beberapa sinopsis fil, jadilah dia keheranan dan bertanya, apa genre film yang saya sukai.

 

Saya sangat menyukai film-film dengan setting jaman dahulu kala, ntah itu film dokumenter, film biografi tokoh, film kolosal, film asia yang tentang kerajaan-kerajaan, beberapa kisah peperangan, fiksi ilmiah, misal kedokteran, agen rahasia dan sebagainya yang sejenis. Jarang sekali saya bisa menonton  film yang bersi fantasi yang pake sihir-sihir, atau sejenisnya, karena mungkin otak saya dipenuhi dengan rasionalisasi, atau terlalu realistis. Beberapa alasan saya, kenapa menyukai film-film berbau sejarah, karena biasanya settingnya anggun, tidak banyak gombalisasi, pakaiannya lebih tertutup, perilakunya didominasi sifat kesatria, kesetiaan, ketulusan, perjuangan, dan harapan. belum lagi diksi yang digunakan sangat bernilai, bijaksana, dan tidak umbar, sangat elegan, bahkan mungkin hanya diungkapkan dengan beberapa kata saja, atau non verbal, tapi cukup bermakna (*beda sama jaman sekarang, yang mengumbar seluruh kata-kata sampai habis, tap seperti buih yang tidak begitu berharga untuk dimiliki, banyak, namun segera menghilang tanpa bekas). Selain itu, film2 sejarah dan dokumenter, biasanya terinspirasi dengan beberapa tokoh nyata yang bisa diambil hikmah sifat dan inovasinya dalam menjalani hidup, menurut saya dengan menonton itu akan segera bisa kita tiru jika itu baik, dengan kalkulasi yang realis u kita tiru kesuksesan dan kegigihannya, karena tokohnya begitu nyata.

 

Saya juga orang yang suka berimajinasi, tapi mungkin imajinasi saya tidak menjangkau film2 imajinatif yang sering disuguhkan, *ndak bisa sebut judul :D . Seorang teman saya pernah berkata : Wah bin, kalau aku ndak bisa nonton film2 yang serius gitu, kalau aku ya yang bisa bikin seneng, tertawa dan ndak bikin stres. he he he. itu ada benernya juga si, hanya saja, film tetaplah film, ya hiburan. Kadang saya bisa menonton film tanpa harus mendengarkan suara dan latar musiknya, jadi saya bisa semau saya menciptakan emosi film tersebut, walaupun kadang mungkin jadi sedikit berbeda dengan maksud pak sutradara ha ha ha.

Itu Genre film yang saya suka, Kamu???

Semoga apapun aktivitas yang kita lakukan mengandung arti dan menjadi komponen bangunan kesuksesan kita.. Walaupun hanya sekadar nonton film…

*dalam kegalauann belajar psiki :D

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.